Beberapa Film yang Mengoyak Belenggu dan Membuka Cakrawala
Sudah tak asing dengan teriakan dan protes dari hati yang selalu ingin menulis dan menjelaskan apa-apa saja yang sudah diri ini tonton. Karena pribadi menyukai sejarah maka untuk melampiaskan kebosanan, biasanya saya memutuskan untuk menonton film yang mana kerap berkecimpung dalam sejarah, terutama perang dunia ke-2.
Kenapa harus film? Bagaimana tidak. Film adalah sarana terbaik untuk melampiaskan penat dan sesak akan kegiatan sehari-hari. Tak hanya itu dengan film pun, kita mendapatkan pengetahuan dan wawasan dengan hanya duduk manis nan anggun. Namun sayang, film dipandang sebelah mata dalam dunia pendidikan, padahal efek yang diberikan lebih terasa dalam kalbu dibanding harus membaca suatu buku, terlebih buku pelajaran yang tebalnya ampuh untuk membuat yang melihatnya memandang jijik.
Tetapi tetap saja ilmu memang umumnya dibukukan. Karena buku adalah bentuk penyimpanan arsip terbaik sepanjang masa.
Kemudian, pada kesempatan kali ini saya akan mencoba untuk berbagi film-film seru, menarik, dan terbaik menurut saya.
HACKSAW RIDGE (2016)
Berangkat dari kisah nyata. Menceritakan tentang prajurit muda Desmond Doss yang bertekad untuk membela negerinya dengan ikut serta dalam perang dunia 2 dan menjadi petugas medis dalam tentara Amerika Serikat. Namun, ia bersumpah tidak akan pernah memegang senjata seumur hidupnya juga menolak membunuh siapapun. Yang membuatnya unik dan menjadi sorot utama adalah, kenyataan bahwa dirinya menerima penghargaan tertinggi militer Amerika, yakni Medal of Honor.
Dia prajurit tanpa senjata yang mampu membangkitkan semangat tempur para tentara divisi ke-77 , hingga mampu menaklukan Hacksaw Ridge.
MY WAY (2011)
Berlatar perang dunia ke-2, merupakan film yang paling saya beri perhatian lebih. Karena konflik-konflik yang disajikan selalu dieksekusi dengan baik. Menceritakan tentang dua orang lelaki berbeda ranah kelahiran, Kim Jung Shik (Korea Selatan) dengan Hasegawa Tatsuo (Jepang). Yang mana keduanya memiliki kegemaran yang sama yakni: berlari.
Kedua tokoh utama ini melalui perjalanan cukup panjang dalam perang yang berkecamuk ini. Bagaimana tidak? Mereka sudah menjalani wajib militer Tentara Kekaisaran Jepang, menjadi relawan Soviet atau Tentara Merah, kemudian Wehrmacht Nazi, hingga berlakon menjadi tentara Amerika, semua mereka lakukan demi menyelamatkan diri dan pulang ke tanah kelahiran.
Film ini juga diangkat dari kisah nyata yaitu seorang Korea bernama Yang Kyoungjong ditangkap oleh Amerika saat D-Day.
THE 12TH MAN (2017)
Dari sudut pandang Jerman dan Norwegia ketika Perang Dunia II. Yang bukan sekadar film sajian: senapan, tank, U-Boat, sebagai sorot utamanya. Namun, aksi salah satu resisten Norwegia bernama Jan Baalsrud yang berusaha melarikan diri dari kejaran Nazi di tengah cuaca dingin nan ekstrem. Belum lagi Baalsrud terkena luka tembak di kakinya harus bertahan dengan suhu di bawah nol derajat Skandinavia.
Sekilas terkesan mustahil. Sesuai yang tersaji pada bukunya yang berjudul Jan Baalsrud and Those Who Saved Him, yang ditulis Tore Haug dan Astrid Karlsen Scott, ia juga harus berhadapan dengan Sturmbannfuhrer Kurt Stage yang tak pernah membiarkan buruannya kabur. Tekad Baalsrud untuk selamat dengan tubuh lemahnya mampu menggerakkan semangat nasionalis penduduk lokal Norwegia yang kemudian membantu dirinya mencapai perbatasan Swedia.
Sekilas terkesan mustahil. Sesuai yang tersaji pada bukunya yang berjudul Jan Baalsrud and Those Who Saved Him, yang ditulis Tore Haug dan Astrid Karlsen Scott, ia juga harus berhadapan dengan Sturmbannfuhrer Kurt Stage yang tak pernah membiarkan buruannya kabur. Tekad Baalsrud untuk selamat dengan tubuh lemahnya mampu menggerakkan semangat nasionalis penduduk lokal Norwegia yang kemudian membantu dirinya mencapai perbatasan Swedia.
Sebelum menonton yang satu ini, mungkin lebih baik untuk menyiapkan tissue terlebih dahulu. Berkisah tentang seorang anak laki-laki komandan Nazi yang memiliki hubungan persahabatan terlarang. Bermula ketika keluarga Bruno pindah ke tempat yang ternyata dekat dengan Kamp Konsentrasi di Auschwitz. Bruno tentu belum familier dengan rumah barunya, ia selalu mencari jalan keluar untuk mendekati tempat yang setiap harinya mengeluarkan gas, yang saya yakini merupakan hasil dari ruang gas (Gaskammer). Ketika akhirnya Bruno kecil berhasil mendekati tempat yang membuatnya penasaran itu, ia bertemu dengan anak lelaki sebaya bernama Shmuel, seorang Yahudi yang mengenakan piyama lusuh. Bruno senang ketika akhirnya ia pikir ia menemukan teman untuk diajak bermain. Setiap harinya, tanpa sepengetahuan orang tuanya, Bruno mengendap membawa makanan dan mainan untuk dimainkan bersama Shmuel.
Dewi fortuna sepertinya tak menyukai persahabatan kedua bocoh ini, ketidaksukaannya ditunjukkan dengan akhir yang tragis, mampu membuat banyak penonton terharu.
Lihat siapa yang kembali? Novel satir diangkat ke layar lebar satu ini menceritakan Adolf Hitler kembali muncul ke permukaan Jerman!
Diduga ia muncul dari asap misterius dan terbangun di taman kota. Ia bingung dan mencari SS kebanggaannya, namun nihil. Hitler pun memutuskan untuk berkeliling dan ragu bahwa dirinya sedang berada di tahun 1945, karena semua yang ia lihat nampak modern dan canggih. Semua yang melihat penampakan Hitler ini hanya menganggap dirinya sedang ber-cosplay.
Dewi fortuna sepertinya tak menyukai persahabatan kedua bocoh ini, ketidaksukaannya ditunjukkan dengan akhir yang tragis, mampu membuat banyak penonton terharu.
THE PIANIST (2002)
Ya, ini juga salah satu film dengan pemeran utamanya seorang Yahudi, yang mampu membuat penontonnya terharu. Kehidupan pianis bernama Wladyslaw Spilzman berubah mencekam dengan invasi Nazi ke Polandia. Hampir seluruh Yahudi di Polandia temasuk keluarga Spilzman diasingkan di tanah kelahiran mereka sendiri dan beberapa dibawa ke kamp kerja paksa. Beruntungnya, tokoh utama kita selamat berkat bantuan temannya. Ia harus berjuang seorang diri. Berita tentang dirinya yang selamat terdengar oleh temannya sesama seniman, yang memutuskan untuk membantu Spilzman bersembunyi, membuat markas, pindah dari satu bangunan ke bangunan yang berbeda, dan upaya lainnya.
Menariknya di sini, kita akan melihat seorang perwira Jerman, Wilm Hosenfold membantu, memberikan makanan, serta melindungi Spilzman. Wah, menarik bukan seorang Nazi menolong darah Yahudi? Berbulan Spilzman "kucing-kucingan" dengan Nazi yang ketika itu tubuhnya juga didera penyakit membuahkan harapan dengan dikalahkannya Nazi oleh Tentara Merah Soviet. Spilzman berhasil melawan kesendirian, ketakutan, kekejaman, kelaparan, dan kematian.
THE IMITATION GAME (2014)
Dibintangi oleh Benedict Cumberbatch yang berperan menjadi ahli kode terkemuka ketika perang Dunia II, Alan Turing. Layaknya film bertajuk biografi pada umumnya, The Imitation Game mengisahkan sosok Alan Turing yang bergabung bersama temannya yang juga ahli enkripsi dalam memecahkan enigma (mesin mekanik-elektrik milik Nazi yang digunakan bertukar sandi rahasia tanpa sepengetahuan musuh) yang memiliki kemungkinan 159 triliun kode setiap harinya. Hampir mustahil untuk diselesaikan oleh manusia!
Jatuh bangunnya, sempat dituduh mata-mata Soviet oleh teman timnya, tak menyurutkan semangatnya untuk memecahkan enigma ini. Hasil kerjanya menjadi cikal bakal lahirnya komputer juga secara tak langsung ia berhasil mengubah peta dunia. Namun, ketika dunia mengetahui ia adalah seorang yang homophobia, ia dikucilkan, kebebasannya terkekang. Setelah semua jasanya untuk Eropa dibalas dengan pengekangan atas pengetahuan yang dimiliki membuatnya depresi. Hingga ia memutuskan mengakhiri hidupnya dengan apel yang mengandung sianida.
LOOK WHO'S BACK? / ER IST WIEDER DA (2015)
Diduga ia muncul dari asap misterius dan terbangun di taman kota. Ia bingung dan mencari SS kebanggaannya, namun nihil. Hitler pun memutuskan untuk berkeliling dan ragu bahwa dirinya sedang berada di tahun 1945, karena semua yang ia lihat nampak modern dan canggih. Semua yang melihat penampakan Hitler ini hanya menganggap dirinya sedang ber-cosplay.
Film berlanjut ketika akhirnya Hitler bertemu dengan Sawatzki, seorang editor stasiun TV yang baru saja dipecat. Sawatzki melihat cosplay Hitler sebagai peluang untuk menambah rating perusahannya dan berharap dirinya diterima kembali.
Sementara Hitler melihat tawaran Sawatzki sebagai pijakan untuk dirinya kembali memberi propagandanya melalui acara di TV.
Hanya di film ini kita dapat melihat Fuhrer kesulitan mengoperasikan komputer, tampil di TV dan dianggap sebagai pelawak bercosplay. Biarpun komedi, film ini memiliki ending yang tak biasa, dan terkesan suram, loh. Karena Hitler yang Sawatzki ataupun masyarakat pikirkan hanya seorang yang cari sensasi dengan berkostum sebagai diktator Nazi itu ternyata memang benar sungguhan Adolf Hitler!



















